REVIEW SHY: HOW BEING QUITE CAN LEAD TO SUCCESS


Awalnya saya selalu berpikir kalau saya adalah orang introvert. Namun, enggak jarang saya juga dibuat bingung sendiri, karena jujur saja saya tipe orang yang enggak suka sendirian. Bingung kan? Enggak suka sendirian, tetapi kalau menjadi pusat perhatian, energi saya terkuras habis. Bertahun-tahun saya tuh enggak paham sama diri sendiri, mau saya tuh apa sih? hehehe.
Sampai akhirnya saya menemukan buku ini di toko online Periplus. Dari judulnya saja saya langsung yakin buku ini perlu banget saya baca. Dengan sampulnya yang "gonjreng", buku ini juga menarik perhatian saya. Enggak pakai mikir dua kali, saya chekout dan ternyata betul! Saya menemukan jawaban atas kegalauan tentang "orang macam apa sih saya sebetulnya?"

Baca juga: REVIEW BUKANNYA MALAS CUMA LAGI MAGER AJA

Siapa Annie Ridout?

Sebelum membahas lebih jauh tentang buku ini, seperti biasa saya akan menjelaskan tentang siapa sih penulis bukunya. Annie Ridout adalah seorang penulis, couch bisnis dan jurnalis yang menulis banyak artikel di media-media seperti Guardian, Red Megazines, Stylist dan Forbes. Wanita yang tinggal di London ini juga merupakan co-founder dari The Robora, sebuah platform digital yang membantu para perempuan, khususnya, agar bisa mengajarkan keahlian yang dimiliki dalam bentuk kursus online.

Ibu dari tiga anak ini juga aktif menjadi pembicara bisnis di berbagai kesempatan. Ridout memiliki laman pribadi di annieridout.com. Karya lain dari Ridout yang juga cukup terkenal berjudul The Freelance Mum. Buku ini cukup populer karena dianggap sangat membantu para ibu untuk membangun bisnisnya sendiri di tengah pergulatan peran sebagai seorang ibu.

Introvert vs Shy

Di buku ini, Ridout membuka tulisannya dengan membandingkan antara Introvert dan Shy (yang selanjutnya akan saya terjemahkan menjadi orang pemalu). Selama ini saya selalu berpikir kedua hal itu adalah sama, sampai Ridout memaparkan perbedaannya. Intinya orang introvert sangat nyaman dengan kesendiriannya. Orang introvert akan sangat berenergi dan produktif ketika ia sendirian atau sesedikit mungkin berinteraksi dengan orang lain. Namun, tidak demikian dengan Shy atau orang yang pemalu. Sebagai seorang pemalu (yang akhirnya menyadarinya), saya paham betul perbedaannya. Menjadi pemalu tidak sama dengan menjadi introvert. Saya sesungguhnya sangat suka berada di tengah-tengah orang. Saya sangat menikmati interaksi dengan orang lain. Dengan catatan, saya tidak ter-spotlight alias bukan saya yang menjadi pusat perhatiannya.

Saya suka banget mengamati orang. Saya suka banget mendengarkan pendapat orang dan menganalisanya, tetapi... begitu saya yang harus berpendapat, lebih baik saya sembunyi deh di kolong meja. Ridout juga menyebutkan kalau orang pemalu lebih suka berdekatan dengan orang-orang yang dominan. Secara tidak sadar, orang pemalu menjadikan orang dominan yang berada di dekatnya sebagai corong dan bayangan. Saya tersentak, ini mah saya banget! Kalau dirunut, orang-orang terdekat saya adalah orang-orang yang sangat lugas dalam bicara, cenderung berani dan tentu saja dominan. Awalnya saya heran, kok bisa orang yang cenderung diam seperti saya justru lebih mudah dekat dengan orang-orang seperti itu. Lalu, terjawablah semua tanda tanya saya ketika membaca buku ini.

Mengapa orang menjadi pemalu?

Ridout mengumpulkan berbagai pendapat dari ahli serta mewawancari beberapa orang pemalu. Di luar dugaan, banyak orang-orang terkenal dan selebritas yang sehari-harinya tampak begitu luwes dan percaya diri, ternyata merupakan seorang pemalu. Salah satu contoh yang dipaparkan oleh Ridout adalah Beyonce Knowless. Kita mungkin menganggap diva seperti Beyonce tidak mungkin pemalu, namun dalam sebuah wawancara talkshow, Beyonce pernah mengaku bahwa dirinya adalah seorang yang sangat pemalu. Ia bahkan membuat alter karakter untuk "menggantikan"-nya di panggung yang ia beri nama Sasha Fiers.

Setiap orang bisa menjadi pemalu, bahkan saat ia seorang superstar. Ridout menyebutkan bahwa pemalu bukanlah sifat bawaan. Pemalu muncul secara kondisional, bisa karena peristiwa, pengalaman masa lalu atau dengan siapa kita berinteraksi.

Orang-orang terdekat saya pasti akan meledek, ketika saya menyebut diri sebagai orang pemalu. Karena bagi mereka, saya sama sekali bukan orang yang demikian. Saya bisa sangat cerewet bahkan enggak jaim sama sekali ketika berhadapan dengan orang yang sudah cukup mengenal saya. Namun, orang-orang yang baru bertemu kebanyakan akan menilai saya sebagai orang yang pendiam. Hal ini ternyata juga terjadi hampir pada setiap orang pemalu.

Ingat ya! Saya Pemalu, Bukan Sombong.

Dahulu saya pernah dikenalkan oleh salah seorang teman dari teman saya. Kami berbincang sejenak dan di akhir pertemuan, orang tersebut dengan lugas bicara begini, "Kamu tuh jutek dan kelihatan agak sombong, ya." Ya Allah... seperti tersambar petir ketika ada orang yang bicara seperti itu pada saya. Padahal saya hanya malu dan bingung mau memulai dari mana.

Masalah yang saya hadapi sebetulnya masalah yang sangat umum dihadapi oleh orang-orang pemalu. Ketidakcakapan kami basa basi sering diartikan sebagai kengkuhan. Padahal nih... dalam otak kami sibuk memformulasikan kata-kata dan memikirkan topik apa yang bisa kami bicarakan pada orang lain. Ridout juga membagi pengalaman yang sama dalam bukunya. Ia yang ketika berusia lebih muda cenderung pemalu, juga mengalami kesulitan saat harus memulai perbincangan. Enggak jarang ia dianggap menyia-nyiakan kesempatan saat bertemu orang baru, karena dianggap sombong saat ia diam saja dalam sebuah pertemuan.

Shy Annie Ridout
Banyak orang salah paham pada orang pemalu karena seringkali orang pemalu tidak cakap dalam memulai pembicaraan


Kesuksesan juga milik orang pemalu.

Dari paparan awal buku Shy, Ridout tampak menggambarkan kesulitan-kesulitan yang kerap dialami orang-orang pemalu. Jika dipikir, rasanya menjadi pemalu bisa menghambatkan kesuksesan seseorang. Namun, Rdout berkata tidak juga. Banyak orang sukses yang sebenarnya adalah seorang pemalu. Meski sulit untuk luwes berinteraksi dengan orang lain, orang pemalu yang paham dan tahu bagaimana cara menyiasati rasa malunya, juga punya kesempatan untuk sukses.

Ada beberapa tips yang tersebar dalam buku tulisan Ridout ini, tetapi kalau saya jelaskan di sini bakal terasa seperti spoiler enggak, ya? hehe. Intinya banyak trik yang bisa digunakan oleh orang pemalu untuk tidak terlalu tampak pemalu, misalnya dengan memalsukan rasa percaya diri, mencari media yang sesuai kenyaman untuk mengekspresikan diri sampai berlatih dan berlatih lagi agar menjadi orang yang lebih percaya diri. Pemalu bisa sukses dengan gayanya sendiri. Tinggal bagaimana si pemalu bisa menemukan kuncian yang pas bagi dirinya agar bisa menjadi pribadi yang optimal.

Menjadi Pemalu Bukanlah Masalah.

Ingat enggak? Sejak dulu orang tua selalu mendorong kita untuk tampil. Saat acara keluarga, saat di sekolah atau di mana saja deh, orang tua akan menyuruh kita untuk berani berbicara. Menjadi anak pemalu dianggap sebagai sesuatu hal yang perlu diperbaiki. Karena anggapan kalau mau sukses, ya, jangan jadi orang pendiam dan pemalu. Menurut Ridout, menjadi pemalu bukanlah sebuah masalah. Menjadi pemalu adalah ekspresi dari bentuk kenyamanan dan preferensi seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Orang pemalu biasanya punya limit tersendiri dalam berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut tentu perlu dihargai. Jadi, rasa malu bukan hal yang perlu diperbaiki, tetapi perlu diterima dan dirangkul serta dikenali. Dengan demikian, perasaan malu bisa ditempatkan pada tempatnya. Bukan orang yang dikendalikan rasa malu, hingga ia tidak berperforma baik.

Kalau dipikir-pikir ulasan saya kali ini agak semi spoiler ya... Entah kenapa saya semangat sekali mau membahas buku ini. Saya merasa buku ini saya banget. Meski demikian, buku ini memang enggak mengulas terlalu dalam tentang bagaimana menjadi pemalu yang sukses. Ini agak kurang sesuai memang dengan judul yang digadang di cover depan. Namun, secara keseluruhan buku ini bagus. Meski berbahasa inggris, juga cukup mudah untuk dipahami karena bahasanya yang ringan dan populer. Bahkan untuk orang dengan kemampuan bahasa inggris yang biasa saja seperti saya, bisa mencerna isi buku ini dengan baik. Buku ini tergolong buku yang ringan yang bisa dinikmati kala senggang. Beberapa pembaca yang mengulas melalui Goodreads juga sepakat akan hal ini.  Jika Anda mencari cara bagaimana "menyembuhkan" sifat pemalu, Anda tidak akan menemukannya dalam buku ini. Akan tetapi, membaca buku ini akan membuat Anda sadar bahwa memiliki sifat malu adalah hal wajar karena Anda tidak sendiri.

Untuk buku ini saya beri rating ☆☆☆☆\5.

Komentar

  1. Betul sekali. Intover memang enggak otomatis pemalu, pendiam, penyendiri, dan pasif. Ini masalah produktivitas, ya.

    BalasHapus
  2. Perlu baca buku ini nih. Bisa dikatakan kita sama. Kadang aku bisa cerewet banget, tapi sama org baru, aku lebih diam. Sampai suka dibilang jutek. Dl sama suami pas masih oacaran aja, disuruh sering senyum. Eh sekarang kebanyakan senyum, malah sm org dianggap remeh. Serba salah euy.

    BalasHapus
  3. Mbak, dirimu kok sama denganku. Saya pasti dibilang sama keluarga dan orang-orang dekat bukanlah orang yang pemalu, namun kalau berada di sebuah keadaan tertentu saya juga bisa jadi pendiam dan pemalu. Kayaknya saya mau baca bukunya juga. Btw bisa baca bukunya di mana, ya?

    BalasHapus
  4. Bukunya bagus. Kira2 ada gak ya di gramedia digital biar bisa sekalian baca ebooknya.?

    BalasHapus
  5. Justru malu itu adalah sikap yang bagus dalam agama islam. Btw, kalo diantara intovert dan ekstrovert bisa jadi kakak ada di tengah2nya yaitu AMBIVERT.

    BalasHapus
  6. Apa mungkin saya juga sebenarnya bukan seorang yang introvert ya? Kayaknya saya juga nyaman aja berkumpul sama orang asal nggak jadi pusat perhatian.

    BalasHapus
  7. Dulu suka kesel dan sedih, deh, saya kalau dianggap sombong. Padahal, saya kalau ketemu orang memang lebih banyak diam. Kecuali sama yang udah dikenal banget. Perlu juga, nih, saya baca bukunya.

    BalasHapus
  8. Ngasi ratingnya tinggi...keren berarti. Penasaran jadinya!
    Aku suka baca buku pengembangan diri seperti ini. Ada yang versi Bahasa Indonesia enggak ya..haha, biar mudah dipahaminya.
    Sejatinya aku tipe yang terbuka dan bisa dengan cepat membaur ke lingkungan baru...Tapi makin berumur makin menarik diri. Seperti lebih nyaman jika sendirian, jadi sangat rumahan, dan memilih diam jika bersama banyak orang.

    BalasHapus
  9. Berkarya melalui tulisan memudahkan penulis mengenalkan passionya, buku introvert dan lika liku bacaan di dalamnya memberikan gambaran diferensiasi introvert, malu, dan sejenisnya.

    BalasHapus
  10. Saya banget nih pemalu dan jaga jarak sama orang yang baru dikenal ngga bisa langsung sksd tapi kalo sama teman dekat saya yang ngga bisa diam hehe

    BalasHapus
  11. Bisa dijadikan pengetahuan, pemalu bukan berarti sombong

    Bisa dijadikan penyemangat
    Pemalu juga bisa sukses

    Terima kasih atas artikelnya yg menarik,

    BalasHapus
  12. Pemalu atau pendiam kadang saya juga curious pada keduanya mbak, bukunya bagus deh jadi kepo sama isi lengkapnya

    BalasHapus
  13. Orang pemalu dan introvert tentunya cocok dengan pekerjaan-pekerjaan di belakang meja yang tidak mengharuskan mereka terkoneksi dengan orang lain dalam volume yang cukup sering. Seperti accountant, auditor, IT/programmer dan masih banyak lainnya. Saya setuju banget. Sifat seperti ini tak akan menghalangi mendapatkan karir yang bagus dan berkembang. Jadi pengen ikutan baca bukunya Mbak. Hanya ada di Periplus ya?

    BalasHapus
  14. Akupunktur pernah mendapatkan predikat seperti itu mbak. Padahal pada dasarnya kita pemalu. Bahkan sempat saya jadi gunjingan gegara saya menyapa sekedarnya dan sudah berbasa basi.. jadi pengen baca bukunya

    BalasHapus
  15. wah keren, rating 5
    Nampaknya saya perlu punya bukunya Annie Ridout ini
    Saya juga pemalu
    Tapi kerap nggak setuju dengan pendapat tertentu, sehingga muncullah saya
    #terpaksa tepatnya :D :D

    BalasHapus
  16. Waaa, rating-nya super mantuull nih Kak.
    Aak, penasaran buat ikut baca juga.
    pan kapan mau bgt berburu buku kece ini

    BalasHapus
  17. Saya agak "lama" kenal sama orang baru dan kesannya jaga jarak gitu, tapi kalau sudah kenal ya baru keluar deh aslinya.

    BalasHapus
  18. Menjadi seorang yang pemalu, juga daku alami terlebih karena kondisi yang membuat kurang nyaman atau karena baru kenal aja sih

    BalasHapus
  19. Saya setuju sekali dengan pernyataan Pemalu itu Bukan Sombong. Jelas beda sekali maknanya tapi pelaku kerap dianggap bersikap Sombong. Anak saya yang cewek juga pemalu, dan itu menyulitkan dia di kelas :))

    BalasHapus
  20. wah buku yang menarik untuk dibaca ya ka

    BalasHapus
  21. Aku terkesan dengan sampul bukunya. Bikin penasaran, ya. Judulnya di pinggir gitu. Beneran menyiratkan sifat pemalu. Duh penasaran deh dengan tulisannya secara utuh. Sebab iya, aku kira ini tuh buku buat para pemalu untuk bisa mengobatinya jadi orang yang lebih extrovert. Kudu baca tulisan utuhnya ya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Halo! Terima kasih sudah mampir membaca ulasan si ibu kutu. Silahkan tinggalkan komentar di kolom. Mohon jangan tinggalkan link hidup ya dan komentar teman-teman akan dimoderasi demi kenyamanan pembaca. Salam cinta dari si ibu kutu♡