MENGENAL PAHLAWAN NASIONAL LEWAT "MERDEKA SEJAK HATI"

 

Merdeka Sejak Hati

Namanya mungkin tidak seterkenal kedua abangnya, Sanusi Pane dan Armijn Pane. Namun jejak kontribusi Lafran Pane juga tak bisa diabaikan. Mendirikan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam, Lafran Pane menempatkan posisi islam di kancah pergerakan mahasiswa di masa pasca kemerdekaan. Datang dari keluarga yang aktif dalam pergerakan, Lafran Pane amat familiar dengan dunia organisasi dan politik. Ayahnya  sendiri,  Sutan Panguraban Pane, merupakan salah satu pendiri organisasi Muhammadiyah di Sipirok, Sumatera Utara.

Lafran kecil tumbuh di lingkungan yang religius. Hingga di kemudian hari, pengaruh pendidikan agama yang ketat ini pun menjadi dasar bagi Lafran untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang mengakomodir nilai-nilai keislaman di Indonesia. Pada saat itu, paham sosialis memang amat mengakar di Indonesia dengan ditandai oleh dominasi dari partai sosialis. Hal ini dianggap dapat melemahkan upaya bangsa untuk terlepas dari pihak Belanda yang berusaha untuk kembali bercokol di Indonesia.

Beberapa jejak pemikiran Lafran Pane yang terkenal adalah bahwa agama Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, melainkan juga hubungan antar manusia baik dalam lingkup kecil maupun lingkup besar seperti negara. Lebih jauh lagi, Lafran Pane juga menyebutkan bahwa tugas manusia adalah mengajak umat manusia lain kepada kebaikan dan juga menciptakan masyarakat adil dan makmur baik dari segi material maupun spiritual. Lafran Pane mencoba mensinergikan antara religiusitas beragama (dalam hal ini agama islam) dengan kontribusi duniawi yaitu kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Atas jasanya mendirikan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Lafran Pane dengan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2017.

Tidak hanya menceritakan sepak terjang Lafran Pane dalam mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam, buku yang ditulis apik oleh Ahmad Fuadi ini juga mengupas tentang sisi lain kehidupan Lafran Pane. Dimulai dengan memaparkan kehidupan awal Lafran kecil di Sipirok, masa-masa pencarian jati diri saat remaja hingga menyoal percintaan antara Lafran dengan Dewi, istrinya. Bagi saya, bagian menarik dari buku ini adalah saat mengupas bagaimana hubungan Lafran Pane dengan ayahnya. Lafran Pane dan ayahnya memang memiliki hubungan yang tidak biasa, meski begitu ayahnya tetaplah salah satu sosok yang membawa peran penting bagi terbentuknya karakter seorang Lafran.

MENGENAL PENULIS MERDEKA SEJAK HATI

Kisah biografi Lafran Pane ini ditulis oleh Ahmad Fuadi. Siapa yang tidak mengenal penulis yang satu ini? Salah satu karya besarnya, Negeri 5 Menara, telah difilmkan dan amat sukses dipasaran. Bukunya yang berjudul Anak Rantau juga tak kalah sukses dengan menyabet best seller. Memiliki latar belakang sebagai jurnalis, Ahmad Fuadi juga pernah melakoni pekerjaan sebagai seorang wartawan dan kontributor untuk Tempo dan VoA. Selain seorang novelis, saat ini Ahmad Fuadi juga aktif menjadi pengajar dan pembicara di event-event dalam dan luar negeri. Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya adalah Indonesian Cultural Fondation Inc Award, Penulis Terbaik IKAPI/Indonesia Book Fair dan Longlist Khatulistiwa Literary Award. Selain itu Ahmad Fuadi juga menjadi salah satu penerima beasiswa Fullbright.

KESAN TENTANG BUKU MERDEKA SEJAK HATI

Saya pribadi memang suka sekali dengan cara A. Fuadi bertutur dalam buku-bukunya. Seperti pada buku-buku tulisannya yang lain, Ahmad Fuadi membawa pembaca dengan cara bertutur yang sangat manis namun memiliki sisi jenaka. Buku ini adalah buku biografi, namun dikemas dengan bentuk novel hingga terasa ringan bagi pembaca. Meski mengangkat tokoh yang tidak dikenal di semua kalangan, buku ini sangat bisa dinikmati semua orang. Sedangkan bagi orang-orang yang lekat dengan dunia pergerakan mahasiswa, membaca buku ini seperti membawa nuansa semangat tersendiri. Buat orang yang aktif di organisasi pas zaman kuliah dulu, mungkin akan terbawa memori saat-saat melakukan aksi, diplomasi dan orasi,hehe.

Untuk yang suka sejarah, buku ini juga patut untuk dimiliki. Kita bisa melihat apa yang terjadi pada masa pasca kemerdekaan dari kacamata mahasiswa. Di buku ini juga kita akan mendapati sekilas cerita tentang beberapa orang yang namanya cukup lekat di telinga, seperti kedua abang Lafran, yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane.

Sayangnya buku ini sedikit terasa kehilangan feelnya ketika telah mencapai klimaks saat pembentukan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam. Antiklimaksnya seperti dipaksakan hingga membuat pembaca sedikit bosan. Saya sendiri tidak menyelesaikan seluruh buku ini, karena merasa sudah cukup mencerna isinya setelah membaca 2/3 halaman. Ternyata apa yang saya rasakan juga dialami oleh sebagian pembaca buku ini. Beberapa komentar di situs Goodreads rupanya juga kurang mengapresiasi buku ini,

"Sudah kuduga, terlalu normatif. Memanglah ini novel biografi Lafran Pane, pendiri organisasi kemahasiswaan islam, tetapi narasi doa-doa beliau yang diulang-ulang membuat saya seakan-akan menonton sinetron hidayah...."

"Bab-bab awal dari buku ini memikat hati saya... Namun lambat laun cerita menjadi monoton dan repetitif. Sayang sekali setelah 90% halaman terbaca, rasanya sudah tidak sanggup lagi saya melanjutkan karena bosan."

Namun, ada juga yang sangat mengapresiasi buku ini,

"Enggak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini, karena ketika halaman pertama sudah dibaca, rasanya sulit untuk berhenti sampai di halaman terakhir."

"Sebuah buku biografi yang dikemas dengan baik oleh Bang Fuadi."

Buku ini mendapatkan 4 dari 5 bintang di rating situs Goodreads. Saya pribadi sependapat dengan rating tersebut. Terlepas dari reaksi terhadap buku ini, Merdeka Sejak Hati tetap buku yang pantas untuk dinikmati. Paling tidak beberapa bagian bukunya dapat membuka cakrawala baru bagi pembaca, terutama bagi orang semacam saya yang awam banget perihal pergerakan mahasiswa. Bagaimana dengan Anda, tertarik membacanya juga?

Data buku

Judul: Merdeka Sejak Hati

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 9786020622965

Halaman: 365 halaman

Harga: Rp99.000


Komentar

  1. Sukaaakk bgt ama karya2 A.Fuadi terutama yg Negeri 5 Menara.
    Karena blio eks jurnalis TEMPO ya, jadi bikin novel/ buku biografi berasa bernas banget.
    Kapan2 mau baca ahhhh

    BalasHapus
  2. Iya, aku ya baru dengar Lafran Pane. Penasaran juga nih baca review ini dengan seluruh isi buku. Pengen tahu hubungan tidak biasa dengan ayahnya tuh seperti apa...

    BalasHapus
  3. Penasaran pingin baca bukunya
    Pane ini nama warga ya mbak?

    BalasHapus
  4. Melihat jumlah halamannya kisah Lafran Pane ini masih bisa untuk dibaca sekali duduk, walau sih disayangkan ya 1/3 lagi kurang gereget.

    BalasHapus
  5. Ahmad Fuadi memang kalau nulis novel manis dan ada selingan kejenakaan. Sayangnya jika menjelang akhir membosankan ya...biasa jadi males kelarin baca. Mungikn karena ini biografi sih ya, jadi endingnya normatif

    BalasHapus
  6. Walaupun beberapa review dari buku ini mengatakan kurang greget, tapi cukup recommemded ya mbak untuk kita yang ingin mengetahui tentang kisah hidup Lafran Pane, saya jadi penasaran ingin baca langsung..

    BalasHapus
  7. MashaAllah. Saya baru tau kalau kita ada seorang pahlawan nasional bernama Lafran Pane. Seseorang yang lahir dari keluarga Islami dengan Ayah dan kakak-kakak yang namanya sudah terkenal dan harus di lingkungan literasi Indonesia.

    Terimakasih untuk ulasannya Mbak. Saya akan coba baca bukunya. Meski banyak yang terjerembab pada kebosanan di 2/3 bagian

    BalasHapus
  8. Wah Ahmad Fuadi bikin buku baru ya? Jadi makin kangen jalan-jalan ke gramedia bcari buku buru....

    BalasHapus
  9. Terkadang kalau ga baca beginian. Kita jarang tahu tentang mereka yang punya banyak jasa. Rekam jejak terkadang ga semua terpublikasi ya kan.. Jadi pengen baca lebih lanjut nih.

    BalasHapus
  10. Penting nih buat kita lebih mengenal pahlawan nasional biar kita gak lupa jasa2nya. Sekarang kayaknya anak2 lebih suka mengidolakan orang luar pdhl orang hebat di negeri ini banyak banget

    BalasHapus
  11. Oalah ini tuh buku biografi ya mba sebenarnya, aku malah baru tahu nih soal Lafran Pane, jadi pengen baca deh bukunya jadinya

    BalasHapus
  12. Bukunya bagus nih, nanti coba deh ke Gramedia cari cari bukunya ini

    BalasHapus

Posting Komentar

Halo! Terima kasih sudah mampir membaca ulasan si ibu kutu. Silahkan tinggalkan komentar di kolom. Mohon jangan tinggalkan link hidup ya dan komentar teman-teman akan dimoderasi demi kenyamanan pembaca. Salam cinta dari si ibu kutu♡